Bening Suku Dayak Kenyah Bakung

07/08/2014 00:46

Bening adalah alat menggendong bayi. Bening dibuat dari bahan dasar kayu dan rotan yang dihiasi manik-manik kemudian disulam dengan motif tertentu. Selain manik-manik, bening juga dihiasi oleh taring macan dahan, serta uang logam yang berfungsi mempercantik tampilan. Motif yang ada pada bening umumnya adalah manusia, macan, burung enggang dan sulur. Dahulu, motif manusia dan macan adalah motif khusus yang tidak dapat digambar pada sembarang bening, karena motif tersebut menunjukkan bahwa orang yang mempunyai bening tersebut adalah keturunan paren atau bangsawan. Namun sekarang ini, aturan tersebut tidak lagi berlaku seiring leyapnya stratatisasi pada suku Dayak Kenyah Bakung. Gambar bening dapat anda lihat di samping kanan layar.

 

Kayu yang digunakan untuk membuat Bening adalah kayu yang ringan dan lemah, sering digunakan kayu pelai[1]. Kayu jenis ini banyak tumbuh di hutan-hutan primer dan mengandung banyak air. Bening dibuat setinggi 38-40 cm, di bagian bawahnya diberi papan sebagai tempat mendudukkan anak serta diberi tali untuk diangkutkan pada bahu kiri dan kanan.

 

Hiasan yang terdapat pada bagian luar Bening biasanya dibentuk motif khas Suku Dayak dan memiliki filosofi. Bening sendiri memiliki filosofi, yaitu menjunjung tinggi hakekat seorang anak, bahwasanya seorang anak adalah anugerah dari Tuhan. Jika dilihat dari bentuk, bahan dan lukisan, hal-hal tersebut mengandung makna tersirat keinginan orang tua terhadap anaknya.[2]

 

Relief yang terdapat pada Bening umumnya simetris dan meander yang terdiri dari reling pakis[3], yaitu suatu motif yang melambangkan keabadian hidup. Selain relief, juga terdapat motif-motif berupa taring binatang buas, tanduk rusa, manjangan dan mata uang logam. Ternyata dibalik motif tersebut terdapat makna bahwa orang tua menginginkan anaknya baik.2

 

Bentuk Bening dibuat sedemikian rupa sehingga sang anak mendapatkan kenyamanan ketika berada di dalamnya. Para orang biasanya menggunakan Bening untuk menidurkan dan saat membawa anaknya berpergian, ini menunjukkan kasih sayang dan tanggung jawab yang besar para Suku Dayak terhadap anaknya.2

 

Berkaitan dengan bening, bening juga merupakan salah satu warisan penting dan berharga dari ibu kepada anak untuk digunakan atau menggendong cucunya. Oleh karenanya, bening selalu menjadi perlengkapan prioritas untuk dibuat sedini mungkin oleh seorang ibu walaupun belum ada tanda bahwa ia akan segera mendapat cucu. Setidaknya, ia punya harapan akan memiliki seorang cucu sebagai mana idaman kebanyakan orang tua.

 

Kembali ke Seni Budaya Suku Dayak Kenyah Bakung

 

Penulis/editor: Robert Usat



[1] Pulai (Alstonia scholaris): jenis pohon dengan nama lain pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung. kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembap, tapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung. Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat. berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain.

[2] Tourismnews.co.id

[3] Pakis (paku): tumbuhan yang membiak dengan spora.

 

Seni Budaya Suku Dayak Kenyah Bakung